Dari karyawan menjadi wirausahawan

Advertisement
tempat-jual-pola-kaos-distro-murah-oblong-dan-polos
Hallo… menyapa hangat di pagi hari kepada semua sahabat di sablon manual dot com. Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan pindah kuadran, dari karyawan menjadi wirausahawan. Semoga menginspirasi para sahabat yang ingin pindah kuadran. Silahkan dibaca-baca ya …

Salah satu faktor penting dalam proses melakoni kehidupan adalah : “waktu”, sesuatu yang tidak tergantikan. Apa yang terjadi saat ini merupakan hasil dari keputusan-keputusan waktu lalu, di mana ada yang sesuai dengan yang diharapkan, namun banyak juga yang meleset dari harapan, karena kurang cermat dan tepat waktu ketika mengambil keputusan.
Saya sudah berusia 45 tahun ketika mengambil keputusan resign sebagai karyawan di tahun 2001, usia yang “cukup tua” untuk memulai profesi baru sebagai wirausaha. Perlu digaris bawahi, bahwa profesi wirausaha memerlukan kerja keras dan cerdas.
Saya terlambat minimal 5 tahun dalam mengambil keputusan penting tersebut, jujur saja karena saya takut mengambil risiko, yaitu takut menjadi tidak aman dan nyaman. Pada waktu itu (excuse nih… hehehe..), saya kemas ketakutan tersebut dengan dalih ingin mengumpulkan modal dahulu, sebagai bekal agar aman dan nyaman dalam mengelola bisnis.
Ketakutan saya sesungguhnya adalah, takut hidup susah lagi setelah sekian lama hidup dalam kemapanan (comfort zone) sebagai karyawan, yang dipercaya sebagai Finance Manager di sebuah perusahaan konstruksi papan atas.
Adalah ketakutan yang berlebihan dan sebenarnya tidak perlu dikedepankan, seandainya saya mampu untuk “melihat” sisi lain dari risiko, yakni sisi kemungkinan menjadi sukses dan berkelimpahan sebagai wirausahawan.
Sebagaimana pakem kehidupan yang berlaku, selalu ada dua sisi yang bertentangan, dua sisi berbeda yang kendalinya justru berada di pikiran kita sendiri.
Ketika merancang masa depan dan harus mengambil suatu keputusan penting, sering didominasi perasaan takut gagal dan jarang yang mengoptimalkan emosi dan energi positif.
Memang, dampak pengambilan keputusan sering kali membuat frustasi, terpuruk dan hati tidak nyaman. Namun ketika terpuruk kemudian berhasil bangkit lagi dengan semangat baru, bersiaplah untuk menyambut impian yang mulai menjadi kenyataan.
Kabar baiknya, justru dengan berani mengambil keputusan, meskipun terlambat, itulah yang akan membuat cerdas dalam melakoni “proses” kehidupan di segala bidang. Faktor “kepepet” dan tanggung jawab kepada semua pemangku kepentingan bisnis akan memunculkan karakter ulet, tangguh, kreatif dan inovatif.
Ketika sudah resign sebagai karyawan, pendidikan nyata saya dimulai. Pendidikan riil di universitas kehidupan, langsung praktek bisnis dan mengelola risiko bisnis.
Saya menyadari, bahwa pendidikan dan prestasi akademis saya kurang memadai , sehingga saya harus proaktif mengejar ketinggalan ilmu pengetahuan, menambah “jam terbang” dan bersedia menjalani proses bisnis dengan konsisten.
Saya segera melahap buku-buku mengenai bisnis, marketing, management, keuangan, SDM dan leadership. Saya harus belajar banyak dan dengan cepat, karena banyak aspek bisnis yang tidak diketahui. Kemudian menerapkan apa yang sudah dipelajari ke dalam bisnis.
Kabar baiknya, pengalaman kerja ketika menjadi karyawan seringkali menginspirasi saat berproses menciptakan budaya perusahaan, sistem management, pengelolaan SDM dan sebagainya.
Saya bukanlah keturunan wirausaha alami, profesi kedua orang tua adalah guru PNS, sehingga saya hanya mengandalkan proses belajar di universitas kehidupan riil dan menerapkannya ke dalam bisnis secara terus menerus.
Proses belajar merupakan salah satu kebiasaan terpenting saya dalam mengelola bisnis, maka saya akan dan selalu belajar di sekolah wirausaha dengan konsisten, di sepanjang sisa hidup saya.
Di saat jenuh ataupun mulai merasakan kenyamanan wirausahawan, saya hanya rehat sejenak untuk masuk pit stop, kemudian masuk lintasan jalur cepat lagi, mulai proses belajar lagi dengan menerapkan strategi baru untuk mengembangkan bisnis yang didapat selama pit stop.
Benang merah menjadi wirausahawan, bahwa ternyata tidak ada hari kelulusan ataupun wisuda di sekolah wirausaha.
Selamat beraktifitas dan salam sukses kepada semua sahabat sablon manual dot com. Baca juga artikel lainnya lewat link dibawah ini,
*) Penulis Bambang Triwoko Owner BETIGA Klaten
Clothing company
Advertisement
tempat-kursus-jahit-kaos-distro-jogja-private-murah-di-margo

Sponsored Link:

loading...
Dari karyawan menjadi wirausahawan | admin | 4.5