Kapan balik modal

Advertisement
tempat-jual-pola-kaos-distro-murah-oblong-dan-polos
“Kunci utama pembuatan analisis usaha agar mendekati akurasi adalah ‘potensi pasar’ yang bakal digeluti”. Analisis usaha merupakan perhitungan awal yang perlu dilakukan untuk memberi gambaran apakah usaha yang ingin anda geluti memberikan keuntungan atau tidak. Melalui instrumen analisis usaha bisa memperkirakan seberapa banyak keuntungan yang bakal kita peroleh secara rutin.


Dengan analisis usaha, kita juga bisa memperkirakan berapa lama modal yang ditanam di dalam suatu usaha bakal kembali (ROI : Return On Investment).

Alinea berikut merupakan beberapa istilah dan komponen yang membentuk sebuah Analisis Usaha sederhana :
Investasi.
Sebuah Analisis Usaha sederhana biasanya diawali oleh keterangan mengenai besarnya Investasi atau Modal yang ditanam. Jangan menyamakan investasi dengan biaya. Investasi adalah dana yang hanya perlu kita keluarkan sekali dan tidak berhubungan dengan kegiatan rutin usaha.

Contoh Investasi : pembelian tanah untuk usaha, pembangunan Gedung Kantor, pembelian mesin produksi, pembelian peralatan industri, pengurusan ijin usaha, pembelian Kendaraan Bermotor, dan sebagainya.

Asumsi Penjualan.
Berhubung usaha belum dilaksanakan, maka perhitungan angka Penjualan menggunakan ‘asumsi’. Pada titik inilah perlunya kita mengukur potensi pasar. Hasil kalkulasi inilah yang dipakai sebagai asumsi Penjualan.
Contoh asumsi Penjualan : dalam 1 hari bisa menjual 10 buah produk A. Harga jual produk A Rp 20.000,- / buah. Sebulan 25 hari kerja.
Jadi, asumsi Penjualan per Bulan adalah : 10 buah x Rp 20.000,- x 25 hari = Rp 5.000.000,-
Menghitung Biaya.
Biaya adalah dana yang mesti dikeluarkan secara rutin dan periodik selama kita menjalankan usaha. Biaya terdiri dari Biaya Tetap dan Biaya Tidak Tetap (Biaya Variabel).
Biaya Tetap adalah biaya yang harus dibayarkan secara rutin dengan nilai yang tetap, tidak peduli besarnya perputaran usaha yang dijalankan. Contoh biaya Tetap : biaya Pegawai, biaya telepon, biaya listrik, biaya air minum, biaya sewa tempat (bila tempat usaha menyewa kios, ruko, mall, dll).
Biaya Tidak Tetap adalah biaya yang dikeluarkan secara rutin, namun nilainya tergantung pada besar kecilnya perputaran bisnis yang dikelola. Contoh biaya Tidak Tetap : pembelian Bahan Baku, Bahan Pembantu, kemasan, komisi Penjualan, ongkos pengiriman barang, dan biaya sejenis lainnya. Pada prinsipnya, biaya Tidak Tetap jadi besar apabila Penjualan meningkat. Sebaliknya akan menyusut apabila Penjualan turun.
Biaya Tetap bagi satu jenis usaha bisa jadi termasuk biaya Tidak Tetap bagi jenis usaha yang lain. Contoh : biaya listrik bagi usaha Toko Kelontong termasuk jenis biaya Tetap, namun bagi Pabrik Tekstil yang mesinnya menggunakan listrik, jelas sebagai biaya Tidak Tetap.
Setelah mengklasifikasikan semua elemen Analisis Usaha, dibuat tabulasi dengan elemen total Investasi di bagian atas, berikutnya elemen total asumsi Penjualan, kemudian elemen total Biaya.
Langkah selanjutnya, lakukan perhitungan total Penjualan dikurangi total Biaya. Apabila hasilnya positif disebut LABA. Kalau hasilnya negatif, berarti RUGI.
Untuk mengukur tingkat pengembalian Investasi atau balik modal, dihitung dengan cara :
Total Investasi dibagi dengan LABA = xx kali
Misal : nilai xx tersebut adalah 36, artinya jangka waktu balik Modal adalah 36 bulan.
*) Penulis Bambang Triwoko Owner BETIGA Klaten
Cara sablon kaos sederhana

Artikel sablon kaos terkait:

Advertisement
tempat-kursus-jahit-kaos-distro-jogja-private-murah-di-margo

Sponsored Link:

loading...
Kapan balik modal | admin | 4.5